Senin, 04 Maret 2019

KETAHANAN FISIK PRAJURIT DAN KEMAMPUAN BERTAHAN DI LOKASI RAWAN DENGAN KEARIFAN LOKAL

KEMANG – Tempat melakukan suatu pendaratan darurat bagi sebuah pesawat terbang seperti helikopter ketika mengalami keadaan darurat (emergency)
sering sulit untuk bisa diprediksi. Salah satu lokasi pendaratan yang bisa saja terjadi adalah di tengah hutan yang jauh dari pemukiman penduduk. Dalam situasi tersebut, untuk dapat bertahan hidup sambil menanti datangnya pertolongan adalah bagaimana menjaga kondisi fisik agar tetap kuat. Menghadapi kemungkinan tersebut, maka salah satu tahapan latihan dalam Latihan Survival Sangga Langut 2019 Lanud Atang Sendjaja adalah latihan berbivak dimana peserta latihan berusaha mempertahankan hidup dengan memanfaatkan kearifan lokal guna meningkatkan ketahanan fisik personel berupa tumbuh-tumbuhan maupun hewan di hutan yang dilaksanakan di wilayah Satrad 216 Cibalimbing Desa Pasibiris Kecamatan surade Kabupaten Sukabumi, Selasa (26/2)
Danwing 4 Lanud Atang Sendjaja, Kolonel Pnb Muzafar menjelaskan bahwa dalam survival dasar ini para pelaku akan mendapatkan penjelasan mengenai tata cara bagaimana bertahan hidup di hutan ( jungle survival). “Harus dapat bersinergi bersama masyarakat untuk dapat mempertahankan hidup dengan memanfaatkan kearifan lokal berupa tumbuh-tumbuhan yang bisa di makan secara langsung tanpa harus di masak terlebih dahulu dan yang tidak bisa dimakan, serta cara mendapatkan sumber air dari tumbuhan”, jelas Kolonel Pnb Muzafar.
Pada kesempatan tersebut, warga daerah Surade Sukabumi, Epa Mulyana, S.Pd dan Nunung Resnawati, memberikan penjelasan tentang tanaman yang ada di hutan dari suku asli Sukabumi yang bisa dimakan. “Tujuan kami menjelaskan hal ini adalah untuk berbagi ilmu, berbagi pengalaman terutama sesama pecinta di alam terbuka, sebagai salah satu cara untuk bertahan hidup, dan ini pengalaman yang sering dialami oleh masyarakat suka di sini ketika masuk ke hutan dan naik gunung,” ujar Bapak Epa Mulyana. Dia menjelaskan juga, bahwa di hutan ini ada berbagai tumbuhan yang dapat dimakan, dan ada juga yang dapat dijadikan obat-obatan, ketika mengalami sakit, luka, maupun cidera lainnya. “Harapan kami, ini menjadi pengetahuan bagi seluruh peserta untuk dimanfaatkan, baik dalam latihan ini maupun bila suatu saat mengalami kondisi darurat tersebut.” Pungkasnya.

Sementara Nunung Resnawati menerangkan, suku asli Sukabumi Selatan tidak kalah dengan suku Dayak, suku Baduy dan suku – suku lainnya dalam kemampuan survive di hutan hutan belantara daerah Jawa Barat. “Hal ini dikarenakan suku asli Sukabumi memiliki prioritas di saat berada dalam kondisi survival. Antara lain, memiliki sikap mental yang positif, mrmiliki semangat hidup, memiliki kesiapan diri, dan memenuhi segala unsur pendukung guna menghindari bahaya dan meminimalisir resiko yang mungkin terjadi dalam bergiat di alam bebas.” Paparnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar